Prosesi Adat Festival Putri Nuban 2014
Festival Putri Nuban yang dihelat Pemerintahan Kota Metro adalah satu bentuk aktualisasi atau lebih banyak orang menyebut sebagai revitalisasi sistem dan nilai adat.
Sejak setahun lalu, Dewan Kesenian Metro (DKM) mengusulkan pada Wali Kota Metro Lukman Hakim agar memantapkan nama Festival Metro diubah menjadi Festival Budaya Putri Nuban. Dan walikota mengamini. Sekarang adalah tahun ke dua, Festival Putri Nuban yang memiliki makna sejarah. Dalam arti berdirinya Metro tidak lepas dari korelasi sejarah diserahkannya tanah ulayat Buay Nuban, sekarang Metro, menjadi kota yang perkembangannya makin pesat.
Festival Budaya Putri Nuban adalah upaya menghidupkan kembali ingatan sejarah, nama Festival Budaya Putri Nuban dianggap cocok dan menunjukkan ciri khas budaya lokal. Acara ini diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan generasi muda akan pentingnya pengembangan budaya Lampung dan budaya lokal lainnya yang hidup di Kota Metro.
Apalagi belakangan ini kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal, terutama budaya Lampung, mengalami penurunan. Hal itu disebabkan beberapa faktor, baik internal maupun eksternal. Secara internal generasi muda kekurangan ruang dan waktu untuk menggali dan mengapresiasi guna mengangkat budaya lokal, sebagaimana yang diungkapkan Muadin Efuari, selaku Wakil ketua Dewan Kesenian Metro.
Terlebih diera teknologi informasi ini, secara eksternal gempuran budaya pop dan serbuan budaya asing, mulai dari Barat, Korea, India, di berbagai media informasi begitu deras mengalir, sehingga secara perlahan menggeser kecintaan generasi muda
Pada kesempatan ini ada proses Maro Penguten Dau atau penebusan sejumlah uang sebagaimana tercantum dalam aturan adat. Dilanjutkan dengan penyerahan beberapa persembahan. Nyerahken bak’i,Dodol, Wajik, Juadah balak, Langsung diterima penyimbang Marga Nuban SUTTAN DARMAWAN (Walikota).
Prosesi pemberian gelar adat ini, diawali dengan arak-arakan rombongan pria dan wanita dalam busana adat. Sang tokoh yang akan dianugerahi gelar adat beserta istrinya, kemudian diangkat dengan jempana jelma, dipayungi dengan dua payung agung.
Menjelang pukul tiga sore, beberapa Perwatin memberikan Sekapur Sirih, menerima tetangguhan, perwakilan Penyimbang Bumi Nuban dan perwakilan Penyimbang adat Kota Metro. Acara yang berlansung dengan hikmat ini menarik minat masyarakat yang berbondong-bondong datang dan menjadi saksi seluruh rangkaian prosesi.
Suara kulintang kemudian terdengar, mengiring tari baris Muli Mekhanai, tanda dimulainya prosesi pemberian gelar. Dilanjutkan dengan tari Anak Ratu di Puncak (4 Saudara) dengan memakai baju balak, Nuban pakai Siger dan Tanggai.
Memasuki acara inti Pengurus MPAL, memimpin prosesi pelantikan atau pengukuhan , gelar/adek kehormatan , kepada Walikota Metro, Ketua DPRD Kota Metro, Wakil Walikota. Sekda Kota Metro. Prosesi ini diiringi Tari / Igel pemberian gelar kehormatan Langsung pemberian gelar.
Demikianlah akhirnya, Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) Kota Metro dikukuhkan oleh Walikota Metro Lukman Hakim dan Ketua MPAL Lampung pada resesi pesta budaya. Keputusan pengukuhan mendasar pada hasil merwatin (musyawarah), yang dihadiri para tokoh adat Lampung, di kediaman walikota,
Pada acara pengukuhan inilah sekaligus digelar begawi adat pemberian gelar kehormatan kepada Walikota Metro Lukman Hakim, Walikota Metro diberikan gelar St Dermawan Pemangku Bumi Say Waway
Budaya Lampung merupakan identitas yang sejatinya bisa menjadi perekat bagi semua masyarakat pendatang, sehingga baik nilai-nilai yang menjadi spirit maupun seni tradisi yang berkembang di masayarakat harus terus digali dan dilestarikan. Budaya Lampung harus dikembangkan sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan yang tinggi oleh semua pihak, termasuk para pendatang. Hanya dengan cara demikian budaya Lampung akan tetap bertahan dan semakin kokoh sebagaimana kebudayaan di daerah lain.
Budaya lokal jika dikembangkan akan mampu menjadi media pembangunan karakter. Karena itu, muatan festival Putriu Nuban sangat urgen, dan dibutuhkan Kota Metro. Festival Budaya Putri Nuban sebagai agenda tahunan yang sekaligus menyemarakkan hari jadi Metro terbukti diminati masyarakat. Ribuan pasang mata dari pagi hingga malam hari selalu dijejali hiburan bernuansa budaya Lampung dan budaya lokal lainnya.
Festival Putri Nuban merupakan sebentuk aktualisasi sistem dan nilai adat di era global. Suatu identitas di tengah pergaulan global, yang perlu disikapi dengan hati-hatidan penuh kesungguhan, sebentuk upacara yang sakral-ritual, karena menyangkut hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan leluhur, dengan semesta dan Tuhannya. Namun, dalam prosesinya, harus ada kesepahaman antar tokoh adat agar tidak terjadi perselisihan nantinya.
Demikianlah alasan utama Pemkot Metro yang mencoba mempertahankan adat istiadatnya, salah satu bentuk upaya tersebut adalah pemberian gelar bagi seseorang yang akan menjadi penyeimbang tatakrama adat dan budaya.
Siang, menjelang pukul 13.00 WIB, rombongan Penyimbang Marga Nuban tiba di rumah dinas Walikota Metro, diringi para Muspida, Dengan di pandu oleh Ali Kepala Mega- Tokoh adat Abung Siwo Migo Metro. Usai ramah tamah, makan siang (Pangan Kebau), seluruh rombongan menuju sesat. Diiringi Kulintang, Pencak Silat, Pemakai, Payung Agung, Awan Telapah,Jejalan, Rombongan Muspida dan Tokoh-tokoh adat Abung Siwo Migo menuju sesat.
Suasana di Sesat yang sudah dipenuhi oleh tokoh-tokoh adat Bauy Nuban berada di lapangan Samberbegitu hikmat. Mula-mula Sutan Juragan- salah seorang yang dipercaya untuk mengatur jalannya acara menyapa dengan sapaan khas Lampung. “ Tabik pun ” , suara itu menggema memenuhi seisi ruangan. “ Ya, pun “ jawab para hadirin. Acara pun berlanjut. Negarau – arau sekaligus mupun Jeng-jeng (mempersilahkan duduk kepada semua tamu).
Prosesi Adat pada Festival Putri Nuban bertujuan selain untuk meletarikan budaya Lampung, juga untuk mempererat tali persaudaraan, apreasiasi terhadap ke-bhineka tunggal ika-an dalam kehidupan masyarakat Metro yang heterogen.
Begawi adat yang digelar oleh penyimbang marga dari Buay Nuban ini biasanya digelar untuk mengangkat raja atau pemimpin baru, yang akan naik tahta sebagai penyimbang marga. Prosesi adat yang sarat dengan pesan ini, biasanya berlangsung selama beberapa hari. Tokoh yang dianugerahi gelar adat akan memiliki hak suara untuk mengatur tatacara kultur adat dan budaya di Kota Metro.
Seketaris daerah Metro, Ishak, SH, MH selaku ketua panitia Penyelenggara kegiatan ini merasa puas dan bangga bila kota Metro mampu menyelengarakan kegiatan ini walau kota ini didominasi oleh para suku pendatang, dan mereka bisa menyaksikan bahwa prosesi adat lampung juga menarik untuk di lihat dan dipelajari sebagai bagain dari kekayaan budaya Nusantara, apalagi Guines Local dalam konteks budaya daerah di lampung adalah budaya lampung, jadi harapan kami ke depan adalah budaya lampung sebagi induk budaya yang dilestarikan bersama budaya-budaya lain yang ada di kota Metro, sehingga masyarakat lampung dan pendatang tidak kehilangan identitasnya, imbuhnya pada siang itu.
Sumber : http://buletinbudayakotametro.web.id/

0 komentar :
Posting Komentar